Kumpulan Soal-soal untuk SMK
Test for Elementary Level
Soal Bahasa Ingris Kelas XI 2009
Soal Bahasa Inggris Semester Genap
NUPTKL LPMP JATENG
Di sinilah aku dilahirkan, di sinilah tempat aku dibesarkan hingga 27 tahun lamanya. Di sinilah tempat semula kami buat usaha da'wah bersama sejawat pemula....Ya Allah,hamba titipkan Ibu dan Bapak tercinta di sana, saudara dan kerabat tercinta di sana dan beberapa teman seperjuangan yang masih tetap eksis dengan kebaikan...
Pantai Celong sebagai objek wisata bahari (kelautan) telah disepakati oleh Komisi C DPRD yang digagasi Kantor Pariwisata Kabupaten. Pantai yang terletak di Dusun Mangunsari, Desa Kedawung, Kecamatan Limpung itu dipenuhi batu karang sehingga menambah keindahan panorama alamnya. Untuk menuju ke tempat itu juga mudah. Dari Pantura Banyuputih ke utara lewat jalan beraspal, sehingga kendaraan bermotorpun bias mengakses jalan tersebut.
Suasana pantai Celong benar-benar alami, bahkan jalan menuju ke arah pantai dipenuhi oleh ribuan tanaman karet serta di tepi pantainya dilewati jalur kereta api yang menuju ke arah Pekalongan.
Karena itu diharapkan Kantor Pariwisata benar-benar serius merancang pantai tersebut. Dengan demikian, dapat menambah jumlah objek wisata bahari untuk meraup kunjungan wisatawan di Kabupaten Batang.
Dua objek wisata bahari yang telah ada, yaitu Pantai Sigandu di Kecamatan Batang dan Ujungnegoro di Tulis. Setiap Minggu atau hari libur, dua tempat itu selalu ramai dikunjungi wisatawan local maupun dari luar kota Batang.
Dalam pengembangan Pantai Celong, nantinya diharapkan tidak sekadar sebagai objek wisata bahari, akan tetapi, dengan kondisi alamnya bisa dimanfatkan sebagai arena untuk bidang pendidikan dan keterampilan seperti kegiatan kemah ataupun out bond.
Untuk menuju ke pantai Celong sangatlah mudah, dengan jalan beraspal dan sarana transportasi yang sepadan dengan jalur pantura, memudahkan pengunjung. Apalagi, lewat perkebunan karet yang jika dilihat berbukit-bukit dan udaranya yang sejuk.
Pembangunan pantai celong ini diharapkan masyarakat Batang tidak perlu berlibur ke luar daerah. Namun, cukup mengunjungi objek wisata di daerah sendiri.
Banyak pengunjung yang datang ke pantai celong. Biasanya pada hari Minggu atau hari libur akan ramai dikunjungi. Tidak hanya dari Batang tetapi juga dari Semarang, Kendal, Sukorejo, Bawang, Reban, atau Limpung. Rata-rata mereka mengunjungi pantai celong untuk memancing sambil duduk di atas batu karang.
Situs Sejarah
Pantai Celong selain panorama alamnya indah, juga mempunyai nilai sejarah. Menurut cerita, di sanalah kali pertama wangsa Syailendra mendarat di tanah Jawa. Yang kemudian dalam perkembangannya membangun Candi Borobudur di Magelang.
Atas dasar sejarah tersebut, saat ini sudah ada yayasan yang akan mengembangkan Pantai Celong. Nantinya, tidak hanya akan menjadi objek wisata bahari namun juga wisata budaya.
Semoga dengan pembangunan pantai celong sebagai objek wisata bahari dan wisata budaya dapat mencitrakan Kabupaten Batang sebagai kota yang indah dan nyaman.
BERETIKA DI INTERNET
Manusia sebagai mahluk sosial memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan individu lainnya. Kebutuhan ini membawa masyarakat pada terciptanya aturan-aturan yang menyangkut tata hubungan pergaulan mereka sehari-hari. Salah satunya melalui aturan bersikap atau beretika. Seiring perkembangan teknologi, etika tidak hanya berlaku dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Kini etika juga berlaku di dunia maya mengikuti perkembangan komunikasi jarak jauh. Etika yang berlaku di internet ini dikenal dengan nama netiket atau netiquette. Netiket menyangkut batasan dan cara terbaik dalam memanfaatkan fasilitas internet tanpa mengganggu pengguna internet lain.
Memanfaatkan informasi dari pengguna lain dengan baik. Ada aturan jika kita ingin mengutip informasi dari pengguna lain. Kutiplah informasi yang kita butuhkan secukupnya. Jangan mengutip atau meng-copy informasi secara sembarangan jika kita tidak ingin dikatakan sebagai pelanggar hak cipta. Cantumkan pula identitas sumber informasi termasuk alamat website pengguna yang kita kutip informasinya. Berhati-hatilah dalam memilih informasi karena tidak semua informasi di internet dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Beberapa informasi dapat saja berupa informasi yang bersifat bohong bahkan menyesatkan.
Menghargai pengguna lain dalam forum diskusi, atau bentuk komunikasi online lainnya. Ketika kita sedang berada dalam forum diskusi budayakanlah sikap diskusi yang sehat, meskipun kita berdiskusi lewat dunia maya. Jangan menjatuhkan lawan dengan mengungkapkan kelemahan pribadinya apalagi mengungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan SARA. Jika kita ingin mengkritik maka kirimkanlah kritik tersebut lewat surat pribadi atau e-mail, bukan mengungkapkannya dalam forum umum. Sebaliknya, jika kita adalah pihak yang dikritik lewat e-mail maka jawablah kritikan tersebut dengan surat pribadi pula.
Berilah keterangan apabila kita ingin menyampaikan hal di luar topik yang sedang dibicarakan. Perhatikan kemungkinan kita dapat menyampaikan informasi tersebut atau tidak. Jika tidak, jangan paksakan kehendak kita pada lawan bicara untuk menerima permintaan kita.
Perhatikan pula penggunaan bahasa verbal dalam berkomunikasi baik itu pilihan kata maupun penulisan huruf dan tanda bacanya. Jangan terlalu sering menggunakan tanda seru dan huruf kapital, apalagi menggunakannya dalam satu kalimat. Pengguna lain dapat beranggapan bahwa kita sedang marah atau berteriak-teriak padanya. Gunakanlah pilihan kata yang sopan dan mudah dimengerti lawan bicara khususnya lawan bicara yang baru kita kenal karena tanggapan setiap individu itu belum tentu sama.
Disamping tidak mengganggu pengguna lain, kita juga perlu mewaspadai gangguan dari pihak asing. Meskipun pemerintah telah menetapkan undang-undang berkaitan dengan penggunaan fasilitas internet, bukan berarti kita tidak perlu melakukan tindakan pencegahan. Tidak sedikit tindak kejahatan dilakukan lewat dunia maya. Misalnya saat upload data pribadi, perhatikanlah keamanan alamat URL yang kita gunakan. Jangan sampai kita menjadi korban orang-orang yang tidak bertanggungjawab.
Dunia internet memang memberikan banyak kemudahan lewat fasilitas-fasilitas yang dimilikinya. Tetapi kemudahan teknologi tersebut belum diiringi dengan rasa aman dan nyaman penggunanya. Inilah kewajiban kita untuk menjadikan internet sebagai wadah komunikasi yang beretika.
Ujian Akhir Nasional telah berlalu enam bulan yang lalu; dan sekarang telah masuk bagian pertama untuk tahun pelajaran 2009/2010. Namun begitu, meskipun terlambat daripada tidak sama sekali, BISIS tetap melakukan pelaporan hasil UAN 2008/2009.
Dari serangkaian ujian yang siswa-siswi SMK Negeri 1 Batang telah lakukan, kita sangat bersyukur kepada Allah SWT karena atas ridlo-Nya, semua peserta UAN, UAS dan UKK serta Ujian praktik dari SMK Negeri 1 Batang bias meraih tingkat kelulusan gemilang; bahkan bias mengangkat predikat kelulusan Mata Diklat Bahhasa Inggris yang tadinya B menjadi A.
Dari hasil UAN 2008/2009, BISIS bias melaporkan data siswa-siswi yang meraih nilai 10 pada mata Diklat Matematika seperti di bawah ini:
Liburan Lebaran di Agrowisata Pagilaran
Oleh Dini Setiana, XII AK1

Hari raya Idul Fitri setiap tahun selalu disambut dengan penuh suka cita dengan berbagai ragam tradisi. Mereka ada yang mudik, bersilaturahmi dengan sanak keluarga, kerabat dan juga berlibur ke tempat-tempat rekreasi.
Agrowisata perkebunan the pagilaran terletak di Desa Blado kabupaten Batang. Di liburan Lebaran ini, Perkebuanan Teh Pagilaran merupakan salah satu tujuan rekreasi yang sarat pengunjung. Pengunjung yang dating tidak hanya berasal dari Batang saja, tetapi banyak juga yang dating dari luar kota Batang.
Tempat wisata ini menawarkan beragam fasilitas dan wahana yang cukup dinikmati untuk wisata keluarga. Beberapa fasilitas outbound seperti Flying Fox, Jembatan Gantung, dan Wall Climbing adalah beberapa fasilitas yang sangat digemari oleh pengunjung di Pagilaran. Dalam menggunakan beberapa fasilitas outbound tersebut, para pengunjung didampingi oleh bebrapa petugas keamanan dan pemandu yang selalu siap membantu bila diperlukan.
Pada liburan Lebaran hingga satu Syawal, tempat wisata inni menyelenggarakan “outbound berhadiah” bagi para pengunjung yang mengikutinya. Wah benar-benar menyenangkan liburan lebaran tahun ini di Agrowisata Pagilaran, Batang.
Tempat wisata Pagilaran ini memberikan fasilitas mushola, kamar mandi dan penginapan bagi pengunjung di sana. Bahkan di tempat ini, para pengunjung juga bias membeli oleh-oleh di Toko Cindera mata untuk keluarga dan teman-teman.
Semilirnya angin yang berhembus dengan udara yang sejuak dan matahari yang redup membuat pengunjung betah untuk berlama-lama mengagumi keindahan panorama alam ciptakan sang Kholik dengan menikmati hamparan hijaunya daun teh yang beraroma khas di tempat wisata ini
Selamat Idul Fitri 1430 H
Taqobalallahu minna wa minkum, Taqabal ya Karim
Minal Aidzin Wal Faidzin
Mohon maaf lahir dan batin by Mardanu Susilo, Staff TU SMK 1 Batang
Setelah selesai (ba’da) menjalankan ibadah puasa ramadhan, maka masuk bulan syawal, bulan fitri yaitu bulan pensucian, orang-orang saling berkunjung untuk saling memaafkan. Dimana tujuan puasa yang tercantum pada Q.S. Al Baqarah ayat 183 yang berbunyi ”hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu supaya kamu bertaqwa.
Semoga setelah kita umat muslim menjalankan ibadah di bulan Ramadhan dapat menghasilkan perubahan yang signifikan yaitu peningkatan IMTAQ & IMTEK guna menuju tujuan utama yaitu menjadi orang-orang yang bertaqwa (menjalankan segala kewajibanNya dan menjauhi segala yang menjadi laranganNya.
Halal bihalal, dua kata berangkai yang sering diucapkan dalam suasana Idul Fitri, adalah satu dari istilah-istilah "keagamaan" yang hanya dikenal oleh masyarakat Indonesia. Istilah tersebut seringkali menimbulkan tanda tanya tentang maknanya, bahkan kebenarannya dari segi bahasa, walaupun semua pihak menyadari bahwa tujuannya adalah mencipakan keharmonisan antara sesama.
Hemat saya, paling tidak ada dua makna yang dapat dikemukakan menyangkut pengertian istilah tersebut, yang ditinjau dari dua pandangan. Yaitu, pertama, bertitik tolak dari pandangan hukum Islam dan kedua berpijak pada arti kebahasan.
Menurut pandangan pertama - dari segi hukum - kata halal biasanya dihadapkan dengan kata haram. Haram adalah sesuatu yang terlarang sehingga pelanggarannya berakibat dosa dan mengundang siksa, demikian kata para pakar hukum. Sementara halal adalah sesuatu yang diperbolehkan serta tidak mengundang dosa. Jika demikian, halal bihalal adalah menjadikan sikap kita terhadap pihak lain yang tadinya haram dan berakibat dosa. menjadi halal dengan jalan memohon maaf.
Seorang budayawan terkenal Dr Umar Khayam (alm), menyatakan bahwa tradisi Lebaran merupakan terobosan akulturasi budaya Jawa dan Islam. Kearifan para ulama di Jawa mampu memadukan kedua budaya tersebut demi kerukunan dan kesejahteraan masyarakat. Akhirnya tradisi Lebaran itu meluas ke seluruh wilayah Indonesia, dan melibatkan penduduk dari berbagai pemeluk agama. Untuk mengetahui akulturasi kedua budaya tersebut, kita cermati dulu profil budaya Islam secara global. Di negara-negara Islam di Timur Tengah dan Asia (selain Indonesia), sehabis umat Islam melaksanakan salat Idul Fitri tidak ada tradisi berjabatan tangan secara massal untuk saling memaafkan. Yang ada hanyalah beberapa orang secara sporadis berjabatan tangan sebagai tanda keakraban.
Menurut tuntunan ajaran Islam, saling memaafkan itu tidak ditetapkan waktunya setelah umat Islam menyelesaikan ibadah puasa Ramadan, melainkan kapan saja setelah seseorang merasa berbuat salah kepada orang lain, maka dia harus segera minta maaf kepada orang tersebut. Bahkan Allah SWT lebih menghargai seseorang yang memberi maaf kepada orang lain (Alquran Surat Ali Imran ayat 134).
Budaya sungkem
Dalam budaya Jawa, seseorang “sungkem” kepada orang yang lebih tua adalah suatu perbuatan yang terpuji. Sungkem bukannya simbol kerendahan derajat, melainkan justru menunjukkan perilaku utama. Tujuan sungkem, pertama, adalah sebagai lambang penghormatan, dan kedua, sebagai permohonan maaf, atau “nyuwun ngapura”. Istilah “ngapura” tampaknya berasal dari bahasa Arab “ghafura”.
Para ulama di Jawa tampaknya ingin benar mewujudkan tujuan puasa Ramadan. Selain untuk meningkatkan iman dan takwa, juga mengharapkan agar dosa-dosanya di waktu yang lampau diampuni oleh Allah SWT. Seseorang yang merasa berdosa kepada Allah SWT bisa langsung mohon pengampunan kepada-Nya. Tetapi, apakah semua dosanya bisa terhapus jika dia masih bersalah kepada orangorang lain yang dia belum minta maaf kepada mereka?
Nah, di sinilah para ulama mempunyai ide, bahwa di hari Lebaran itu antara seorang dengan yang lain perlu saling memaafkan kesalahan masingmasing, yang kemudian dilaksanakan secara kolektif dalam bentuk halal bihalal. Jadi, disebut hari Lebaran, karena puasa telah lebar (selesai), dan dosa-dosanya telah lebur (terhapus).
Dari uraian di muka dapat dimengerti, bahwa tradisi Lebaran berikut halal bihalal merupakan perpaduan antara unsur budaya Jawa dan budaya Islam.
Sejarah halal bihalal
Sejarah asal mula halal bihalal ada beberapa versi. Menurut sebuah sumber yang dekat dengan Keraton Surakarta, bahwa tradisi halal bihalal mula-mula dirintis oleh KGPAA Mangkunegara I, yang terkenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa. Dalam rangka menghemat waktu, tenaga, pikiran, dan biaya, maka setelah salat Idul Fitri diadakan pertemuan antara Raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana. Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri.
Apa yang dilakukan oleh Pangeran Sambernyawa itu kemudian ditiru oleh organisasi-organisasi Islam, dengan istilah halal bihalal. Kemudian instansi-instansi pemerintah/swasta juga mengadakan halal bihalal, yang pesertanya meliputi warga masyarakat dari berbagai pemeluk agama.
Sampai pada tahap ini halal bihalal telah berfungsi sebagai media pertemuan dari segenap warga masyarakat. Dan dengan adanya acara saling memaafkan, maka hubungan antarmasyarakat menjadi lebih akrab dan penuh kekeluargaan.
Karena halal bihalal mempunyai efek yang positif bagi kerukunan dan keakraban warga masyarakat, maka tradisi halal bihalal perlu dilestarikan dan dikembangkan. Lebih-lebih pada akhir-akhir ini di negeri kita sering terjadi konflik sosial yang disebabkan karena pertentangan kepentingan.
Makna Idul Fitri
Ada tiga pengertian tentang Idul Fitri. Di kalangan ulama ada yang mengartikan Idul Fitri dengan kembali kepada kesucian. Artinya setelah selama bulan Ramadan umat Islam melatih diri menyucikan jasmani dan rohaninya, dan dengan harapan pula dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT, Maka memasuki hari Lebaran mereka telah menjadi suci lahir dan batin.
Ada yang mengartikan Idul Fitri dengan kembali kepada fitrah, atau naluri religius. Hal ini sesuai dengan Alquran Surat Al-Baqarah ayat 183, bahwa tujuan puasa adalah agar orang yang melakukannya menjadi orang yang takwa atau meningkat kualitas religiusitasnya.
Ada pula yang mengartikan Idul Fitri dengan kembali kepada keadaan di mana umat Islam diperbolehkan lagi makan dan minum siang hari seperti biasa. Di kalangan ahli bahasa Arab, pengertian ketiga itu dianggap yang paling tepat.
Dari ketiga makna tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam memasuki Idul Fitri umat Islam diharapkan mencapai kesucian lahir batin dan meningkat kualitas religiusitasnya. Salah satu ciri manusia religius adalah memiliki kepedulian terhadap nasib kaum yang sengsara. Dalam Surat Al-Ma’un ayat 1 -3 disebutkan, adalah dusta belaka kalau ada orang mengaku beragama tetapi tidak mempedulikan nasib anak yatim. Penyebutan anak yatim dalam ayat ini merupakan representasi dari kaum yang sengsara.
Oleh karena itu dapat kita pahami, bahwa umat Islam yang mampu wajib memberikan zakat fitrah kepada kaum fakir miskin, dan pemberian zakat tersebut paling lambat sebelum pelaksanaan salat Idul Fitri. Aturan ini dimaksudkan, agar pada waktu umat Islam yang mampu bergembira ria merayakan Idul Fitri jangan ada orang-orang miskin yang sedih, atau sampai menangis, karena tidak ada yang dimakan.
Agama Islam sangat menekankan harmonisasi hubungan antara si kaya dan si miskin. Orang-orang kaya diwajibkan mengeluarkan zakat mal (harta), untuk dibagikan kepada delapan asnaf (kelompok), di antaranya adalah kaum fakir miskin.
Dari uraian di muka dapat disimpulkan, bahwa Idul Fitri merupakan puncak dari suatu metode pendidikan mental yang berlangsung selama satu bulan untuk mewujudkan profil manusia yang suci lahir batin, memiliki kualitas keberagamaan yang tinggi, dan memelihara hubungan sosial yang harmonis.
(Dihimpun dan diolah dari berbagai sumber)